Guru Inspiratif dan Profesional
inankito.org

Dalam postingan ini saya tidak akan menjelaskan bagaimana cara menjadi guru inspiratif, ciri-ciri guru inspiratif, atau lainnya yang ada kaitannya dengan tips dan trik. Saya hanya mau sedikit sharing mengenai guru saya sewaktu masih SD yang masih saya ingat hingga sekarang. Tidak hanya sekedar ingat saja. Tapi juga sedikit mencerahkan pemikiran saya yang terkadang kusut.

Nama beliau adalah Ibu Sri Wahyuni Widayati. Beliau adalah guru kelas 5 semester satu dan kelas 6 saya. Beliau ini cantik sekali, wajahnya dihiasi tahi lalat kecil di pipi. Kalau tersenyum lesung pipinya nampak. Sudah pasti untuk penampilan Ibu guru yang satu ini saya acungi jempol. Waktu mengajar saya dulu, beliau masih muda. Jadi tambah semangat dong, diajar dengan Ibu guru cantik.

Semangat belajar tidak hanya didorong oleh hal tersebut. Beliau mempunyai teknik mengajar yang variasi dan menurut saya yang dulu masih awam, cara mengajar beliau tidak monoton dan asik. Saat diajar Beliau, saya jadi tau apa itu peta konsep dan cara membuatnya, menyulam taplak, menggambar peta kemudian mempresentasikannya, membuat kliping dan masih banyak lagi pengalaman saya yang baru terasah saat itu. Beliau juga sering memotivasi siswanya. Saya masih ingat catatan beliau di rapot saya dulu, β€œTetap semangat, pertahankan prestasimu.” Sebenarnya hal itu sederhana, tapi berhubung oleh guru kelas saya sebelum-sebelumnya saya tidak pernah memberi motivasi seperti itu, jadilah hal itu sangat berkesan.

Saya cukup menyesal ketika sadar bahwa saya bertemu guru seperti Bu Yuni ini di kelas enam. Sebenarnya kami sudah bertemu di kelas lima semester satu, akan tetapi saya merasa kurang intensif, karena saat semester dua Bu Yuni diamanahi mengajar kelas 6. Mau tidak mau, kami tidak diajar oleh Beliau, meskipun dalam rapot yang tertulis sebagai wali kelas tetap beliau. Saya diajar oleh seorang guru muda bernama Pak Arif. Bapaknya ini lucu sekali, dan juga tinggi. Bapak ini murah hati, karena sering membelikan kami jajanan. Sayangnya Pak Arif ini mengajar saya hanya satu semester. Padahal saya dan teman-teman tetap ingin ditraktir jajanan.

Kembali ke Bu Yuni. Saat diajar oleh Beliau pula nilai saya meningkat. Alhamdulillah saya juga dapat peringkat saat diajar beliau. Rata-rata nilai anak kelas saya pun lebih tinggi di banding kelas sebelah (sekolah saya pararel). Tentu saja lebih tinggi nilai kami, cara mengajar guru saja asik!

Selain itu, Bu Yuni juga menjalankan kewajibannya sebagai guru kelas dengan baik. Di kampus, saya mendapat mata kuliah Bimbingan dan Konseling. Tapi selama saya SD, tidak ada guru yang serius menanyakan apa, bagaimana, dan yang lainnya mengenai kehidupan kami ketika di sekolah, kecuali beliau. Saya masih ingat betul, saat istirahat, saya dan teman saya duduk di depan kelas 6B, bercerita mengenai berbagai hal. Kami ini hanya berdua waktu itu. Tiba-tiba saja, beliau datang dan ikut bergabung dengan obrolan kami. Pembicaraan berlanjut dan tanpa sadar menjurus ke pertanyaan yang seakan mengorek saya lebih dalam. Mengenai apa yang saya lakukan di rumah, Bapak Ibu kerja apa, dan yang lainnya. Saat itu saya sadar dengan maksud Beliau. Kalau dibahasakan dengan bahasa zaman sekarang sih, kepo namanya.

Saat itu saya risih sebenarnya. Karena dasarnya saya kalem, saya jawabnya singkat-singkat dan mungkin terlihat kalau saya risih dan tidak mau ditanya-tanyai seperti itu. Beliau pun berhenti menanyai saya dan mendengarkan teman saya berceloteh. Memangnya untuk apa sih tanya-tanya seperti itu? Pikir saya saat itu. Tapi sekarang saya tau betul maksudnya. Mendekati siswa dan bertanya mengenai keluhan, kesulitan belajar, memang penting untuk membantu mengatasi permasalahan siswa. Hal itu penting tapi sering disepelekan oleh guru maupun siswa (karena awam).

Lagi deh. Beliau sama seperti Pak Arif, suka mentraktir muridnya. Beliau terbilang cukup sering loh mentraktir kami. Ketika permainan, berhasil menjawab pertanyaan, dan berbagai kegiatan lainnya seringkali beliau memberikan hadiah berupa makanan kecil. Sangat asik mempunyai guru yang seperti ini.

Sedikit banyak saya menjadikan Bu Yuni sebagai panutan. Beliau menginspirasi saya untuk menjadi guru yang dekat dengan siswa, menjadi guru yang menyenangkan, menjadi guru yang mempunyai banyak teknik mengajar, menjadi guru yang tidak membosankan, dan juga menjadi guru yang loyal. Saya juga ingin menjadi seperti Beliau yang meskipun setiap tahun mengajar murid yang berbeda, akan tetapi murid yang pernah diajar selalu teringat suatu hal postitif dari Beliau.

Point terpenting adalah beliau tidak pernah melupakan saya. Tadi secara kebetulan kami bertemu di bank. Saat saya masuk ke dalam bank, saya langsung mengambil antrian dan duduk di barisan kursi paling belakang. Seperti biasanya, mata saya reflek menjelajahi sudut bank ini. Pandangan saya berhenti pada seorang ibu-ibu di depan teller. Saya sempat membantin bahwa itu adalah Bu Yuni. Dulu, satu tahun saya sering melihat beliau mencatat materi di papan tulis. Mana mungkin saya tidak ingat Beliau bila dilihat dari belakang? Tapi saya menampik pemikiran itu, karena mana mungkin Beliau di sini? Saat itu adalah jam mengajar.

Saya pun menyiapkan berkas dan menghitung uang untuk saya membayar pajak bumi dan bangunan. Saat itu hanya ada empat orang di sana. Cukup menunggu satu orang ke teller, setelah itu adalah giliran saya. Sesaat setelah saya menyiapkannya, mata saya melihat teller dan tanpa sengaja bertemu mata dengan Beliau. Kaget sekali saya saat itu. Ternyata dugaan saya tadi sangat tepat. Itu memang Bu Yuni, guru SD saya! Saya pun menyalaminya. Kami pun sedikit mengobrol meskipun diputus oleh panggilan teller. Saya agak kecewa saat itu. Setelah selesai transaksi di teller, saya baru sadar, tadi adalah Ujian Nasional SD. Pantas saja!

Kejadian kecil itu cukup membuat saya termotivasi untuk menuliskan ini. Saya tidak ingin melupakan bahwa ada Bu Yuni yang menginspirasi saya dalam menjadi guru yang baik. Dengan adanya tulisan ini saya juga berharap saya akan mengingat bahwa tepat pada hari ini, saya bertemu dengan guru idola saya.

Iklan