Cover Touche Rostta

Judul                             : Touche Rosetta

Penulis                         : Windhy Puspitadewi

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                            : Juni 2017

Jumlah halaman         : 200

Sinopsis                         :

Bercerita tentang Edward Kim, seorang touche. Ia memiliki kemampuan memahami semua tulisan, bahkan dari bahasa yang belum pernah dia dengar sebelumnya, melalui sentuhan. Dia seperti batu Rosetta berjalan. Kemampuannya itu akhirnya dia gunakan untuk mendapatkan uang dengan membantu seorang profesor di British Museum.

Tiba-tiba seorang pria asing datang menemuinya dan memintanya memecahkan sebuah teka-teki. Teka-teki yang berisi rahasia dari zaman Renaissance dan petunjuk pelaku pembunuhan.

touche rosetta 1

20170609_091357

Bahagia sekali rasanya saya bisa merampungkan novel Mbak Windhy yang sangat saya tunggu ini. Seperti seri sebelumnya, ceritanya masih berkisah tentang penyelidikan, teka-teki yang dibumbui sedikit romansa. Seri Touche ini menampilkan tokoh Edward Kim, Ellen Hamilton, dan Yunus King. Beberapa tokoh di series Touche Alchemist yaitu Hiro Morrison, Karren, Samuel Hudson, dan Profesor Martin, juga hadir, yah meskipun sebagian dari mereka hanya sebagai cameo di sini. Tapi jangan salah, sebagiannya lagi mempunyai peran yang sangat penting. Bahkan bisa dibilang inti dan fokus cerita Touche Rosetta ini.

Bagi yang belum tau apa itu kaum Touche, akan sedikit saya jelaskan. Kaum Touche adalah manusia yang memiliki kelebihan menyerap informasi lewat sentuhan. Mereka bisa menyerap berbagai informasi, baik itu digital, cetak, emosi, bahkan pikiran orang lain. Cara kerjanya mudah, hanya tinggal menyentuh sesuatu yang ingin diserap informasinya, dan voilaa, kaum Touche ini akan mengetahui informasi yang diinginkan.

Seri Touche kali ini bersetting di Inggris. Kemampuan Touche yang diceritakan adalah memahami tulisan yang telah mati, atau bahasa belum pernah diketahui sebelumnya. Si pemilik kemampuan itu adalah Edward Kim. Ia seorang yatim piatu yang dirawat sejak kecil oleh paman dan bibinya. Ia berusaha keras agar tidak merepotkan paman dan bibinya, sehingga sejak kecil ia sangat mandiri dan berusaha mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.

Bertemulah ia dengan Profesor Fischer yang tanpa sengaja mengetahui kemampuannya. Kemudian Edward bekerja pada Profesor Fischer yang bekerja sebagai penerjemah berbagai barang kuno di British Museum. Seluruh biaya kuliah Edward ditanggung oleh Sang Profesor, belum lagi dengan gaji yang selalu ia terima, membuatnya semakin betah.

Semuanya berjalan lancar sampai ketika Profesor Hamilton tewas dibunuh. Hal itu membuat Ellen Hamilton kelabakan untuk mencari penyebab sekaligus pembunuh ayah angkatnya itu. Untuk mengetahuinya, ia harus membuka brankas ayahnya yang terkunci. Ia yakin di sana akan ditemukan petunjuk. Tak ada yang tau kata kuncinya selain ayahnya sendiri. Yunus King kemudian meminta bantuan Edward untuk memecahkan sandi brankas ayah angkat Ellen. Semenjak itu, Yunus King dan Edward Kim, membantu Ellen Hamilton menguak misteri dibalik meninggalnya sang ayah angkat.

Saya kasih bocorannya segitu saja ya. Lebih lengkapnya silahkan beli bukunya di toko buku kesayangan anda.

Novel remaja ini tidak akan membuat rambut kalian rontok untuk memahaminya. Jumlah halaman juga tidak terlalu banyak, jadi bisa dibaca sekali duduk. Saya saja baca novel ini sekitar 2 jam. Tapi tetap saja ada istilah yang membuat pembaca mengerutkan dahi di beberapa bagian.

Touche Rosseta ini jalan ceritanya saya suka. Tersangka utama tidak bisa saya tebak dengan benar. Padahal si tersangka ini sudah berkali-kali mencoba mendekat, menyusup sebagai ‘keluarga’. Memang dasarnya analisis saya kurang sih waktu nebak, haha.

Saya acungi jempol pada Mbak Windhy yang risetnya nggak main-main. Menyatukan berbagai benang merah banyak kejadian sejarah itu nggak mudah. Sedangkan Mbak Windhy ini bisa mengolahnya dengan baik dalam sebuah teka-teki yang cukup rumit. Ini juga yang saya nantikan di setiap serinya.

Ada bagian yang kurang saya sukai di seri kali ini. Saya kurang suka dengan penggambaran rasa suka Edward dan Ellen. Saya merasa penulis agak memaksa dua karakter ini untuk saling suka. Prosesnya kurang mulus seperti Hiro yang dengan gaya cueknya ternyata menyukai Karren. Yah! Saya akui saya kehilangan Baper Moment di sini. Tidak seperti Touche sebelumnya yang membuat saya baper nggak hilang-hilang.

Satu lagi yang membuat saya greget dan ingin protes pada penulisnya. Endingnya tidak seperti yang saya bayangkan. Saya memang sudah sedikit menduga karena sampai beberapa halaman terakhir, konfliknya bukannya mereda malah semakin tinggi. Walaupun sebenarnya saya mengintip kata ‘bersambung’ tertulis di akhir novel, tetap saja rasanya greget. Apalagi mengakhiri seri kali ini dengan penuh teka-teki tentang nasib Edward dan… hmm Hiro tentunya.

Dengan ending yang seperti itu bisa dipastikan bahwa rasa penasaran ini akan menggantung begitu lama. Saya harus menunggu tiga tahun lagi untuk membaca kelanjutannya. Bila diingat kembali Touche pertama terbit tahun 2011, seri kedua tahun 2014, dan seri yang ini tahun 2017. Kata Mbak Windhy itu siklus tiga tahunan. Mungkin saja seri keempat terbit tahun 2020. Tapi tolong, Mbak Windhy, jangan selama itu. Ending Touche Rosetta ini sangat gantung.

Cukup sekian review dari saya. Selamat membaca Touche Rosetta dan seri Touche sebelumnya. Mari kita berdoa bersama agar penantian seri selanjutnya tidak terlalu lama.

 

 

Iklan