pojokbisnis
pojokbisnis.com

Bulan Ramadhan tahun ini agak berbeda dengan Ramadhan sebelumnya. Tahun ini, Ramadhan jatuh pada minggu akhir perkuliahan yang cukup padat. Banyak tugas yang harus diselesaikan. Bahkan disela melakukan ibadah puasa, UAS, kegiatan organisasi, dan kegiatan mendadak lainnya masih harus dilewati. Otomatis kampus menjadi sahabat paling setia.

Namun nggak baik bila menjadikan sahabat setia itu untuk kegiatan yang kurang berfaedah. Berangkat ke kampus hanya  sekadar numpang tidur, nongkrong di gazebo atau mencari spot wifi untuk nonton online drama Korea boleh dilakukan, tapi kurang bermanfaat. Yah, sejujurnya saya sendiri sering melakukan kegiatan itu. Asik sih. Tetapi di bulan yang penuh berkah ini, sebaiknya hal itu dikurangi. Pun saya.

Meskipun berpuasa, di kampus kita juga harus produktif. Misalnya mengambil peluang buat jualan takjil di Student Center, ikut pengajian di Masjid Mujahidin, dan yang lainnya. Kalau saya sendiri punya beberapa kegiatan bulan Ramadhan produktif di kampus yang saya lakukan. Tapi produktifnya lebih ke menggugurkan kewajiban sih. Tapi nggak masalah. Poin pentingnya adalah bulan Ramadhan ini nggak dilewatkan dengan kegiatan yang sia-sia.

Mempersiapkan UAS

papasemar
papasemar.com

Sudah menjadi rahasia umum bila beberapa tahun terakhir, kampus saya hobi sekali menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan pelaksanaan UAS. UAS di kelas saya dijadwalkan berlangsung mulai tanggal 6 Juni hingga 21 Juni 2017. Lama sekali, kan? Tapi untung saja sebagian Bapak dan Ibu dosen berbaik hati untuk memberikan UAS take home. Walaupun soal yang diberikan membingungkan dan nggak bisa selesai hanya dengan sekali mengerjakan, tapi saya tetap bersyukur. Itu cukup mengurangi beban ‘menghafal’ materi kuliah.

Minggu tenang berlangsung dari tanggal 29 Mei hingga 3 Juni 2017. Minggu yang katanya tenang itu, saya pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengerjakan UAS take home beserta hutang laporan dan tugas yang harus dikumpulkan saat UAS. Per harinya saya target satu tugas mata kuliah harus selesai. Untung saja itu cukup berhasil. Kenapa? Karena saya mengajak teman-teman untuk mengerjakan tugas di kampus. Saya nggak bisa membayangkan bila tugas-tugas itu saya kerjakan sendiri di rumah. Saya bisa-bisa hanya tiduran di kasur atau menonton drama Korea dan nggak jadi mengerjakan tugas. Kan repot kalau tiba-tiba sudah jatuh tempo pengumpulan.

libraryfip
library fip uny

Kami mengerjakan tugas di perpustakaan kampus UPP 1 UNY tercinta. Saya paling suka ketika mengerjakan tugas di kampus bersama teman-teman. Ketika berkumpul, kami mudah mendapat refrensi dan selalu berdiskusi tentang soal yang menurut kami sukar. Banyak kepala tentu lebih baik dari satu kepala, kan? Dari beberapa kepala akan tercetus ide-ide yang nggak akan terlintas bila saya berpikir sendiri. Hal itu sangat meringankan beban akhir semester yang sudah berat.

Selain itu, kami pun nggak sepaneng. Sesekali salah satu teman mengeluarkan candaan atau cerita-cerita yang sama sekali nggak nyambung dengan tugas, tapi menjadikan suasana menjadi lebih memanas. Memanas karena kami terlalu banyak cerita sehingga lupa dengan tugasnya, padahal waktu sudah semakin siang. Akhirnya tugas kami nggak selesai, hahaha. Tapi saya selesaikan di rumah. Walaupun nggak langsung selesai di kampus, minimal saya sudah dapat ide-ide dan motivasi untuk mengerjakannya sendiri.

Puisi tak Terduga

1131287shutterstock-238465501780x390
kompas.com

Selain bahasan tentang ide mengerjakan tugas, saya juga ingin cerita tentang ide dalam menulis puisi. Saya kadang mendapatkan ide yang tak terduga asalnya. Apalagi ketika saya sedang lelah, galau, dan sedih, ide itu mengalir seperti air di sungai, lancar jaya. Nah, hal itu terjadi beberapa waktu lalu.

Saat itu tanggal 29 Mei 2017, saya merasa lelah, kesal, dan… lapar. Saya diminta antre bersama teman-teman mahasiswa lain untuk mendapatkan buku rekening beasiswa di Auditorium. Di meja tempat saya antre, banyaknya mahasiswa yang antre seperti lebih banyak dibanding meja yang lain. Mahasiswa yang antre seolah tak habis-habis. Lelah rasanya melihat kerumunan orang di dalam sana. Perut saya juga lapar sekali, kerongkongan sudah protes minta diberi seteguk air. Saat itu saya belum makan dan minum sejak pagi (saya sedang batal). Saya pun duduk bersila sambil menunggu giliran saya maju.

Saya mengeluarkan hape, kemudian menulis. Awalnya saya menulis tentang kekesalan saya. Saya lapar. Saya lapar. Saya lapar. Saya haus. Saya mau pulang. Saya mau tidur, istirahat. Begitu tulisannya. Sampai akhirnya saya dapat ide untuk menulis puisi. Puisi tentang kelelahan, kerumunan orang, dan harapan. Saya tulislah puisi itu. Sudah dapat beberapa bait, ternyata sudah hampir giliran saya ambil rekening. Saya masukan hape ke dalam tas, lalu beranjak ke Mbak petugasnya.

Sampai di rumah saya teruskan puisi itu. Setelah puisinya selesai, saya nggak sengaja baca poster yang ada di timeline instagram. Ada informasi tentang lomba puisi yang diadakan perpustakaan FIP. Saat melihat poster itu saya sudah bertekad untuk ikut serta. Saya mengirimkan puisi yang saya buat di Auditorium, beberapa hari setelah saya baca pengumuman itu.

Setelah posting puisi saya, nyali saya langsung ciut. Banyak peserta dari jurusan PBSI. Karya mahasiswa lain pun tak kalah bagus. Seketika saya merasa menjadi peserta paling amatir. Saya hanya mengikutsertakan puisi ecek-ecek. Saya lalu menanamkan dalam diri bahwa saya hanya berpartisipasi. Sudah pasti saya hanya mempermalukan diri sendiri. Malah puisi itu juga dibaca oleh pengikut saya di instagram. Wah, rasanya saya ingin menghapus saja puisinya. Tapi saya urungkan niat itu. Sudah susah payah buat, kalau dihapus kan sayang.

Ternyata hasil yang saya dapatkan diluar dugaan. Saya menjadi salah satu orang yang beruntung menerima hadiah novel karya Boy Candra dari Perpustakaan FIP lewat puisi itu. Awalnya saya berpikir bahwa itu sangat aneh. Karena karya peserta lain jauh lebih bagus dibandingkan karya saya. Namun kemudian saya syukuri semuanya. Jarang-jarang hasil curahan hati kekesalan dan kelelahan saya diapresiasi.

index

Ramadhan kali ini cukup melelahkan tapi juga menyenangkan. Tak heran kalau saya lebih produktif. Entah itu di kampus atau di rumah. Selalu saya ungkapkan kekesalan saya lewat tulisan. Tulisan ini juga hasil kekesalan saya juga loh. Haha.

Itu hanya sedikit sharing mengenai kegiatan saya di kampus pada bulan Ramadhan yang nggak sengaja menghasilkan ide-ide lumayan dan apresiasi yang lumayan juga. Saya yakin, kalau kita jeli dalam melihat peluang di kampus, inspirasi itu akan datang dan menghasilkan ide terbaik yang akan membuat kita menjadi lebih produktif kedepannya. Apalagi di bulan Ramadhan. Bisa tuh nulis-nulis sambil nunggu bedug. Dari pada tidur kan ya? Nggak cuma nulis, tapi semua hobi kalian.

Saya tau tulisan ini basi banget karena udah lewat bulan Ramadhan. Tapi nggak masalah dong, kalau untuk sekadar sharing. Siapa tau bisa menginspirasi para pembaca buat perbaikan bulan Ramadhan tahun depan. Semoga saja Ramadhan tahun depan bisa lebih baik dari tahun ini, ya. Salam.

 

 

Iklan