banner 1

Malam minggu, tanggal 15 Juli 2017, saya bersama tiga orang teman, menonton Mataram Culture Festival 2. Acara itu diselenggarakan di Monumen Serangan Umum 1 Maret, ujung selatan Malioboro. Kami dapat tempat yang agak jauh dari panggung, tapi masih cukup jelas untuk melihat para panampil.

Mataram Culture Festival 2 terdiri dari dua rangkaian acara, yaitu Parade Dolanan Anak dan Mataram Art Performance. Parade Dolanan Anak dimulai pukul 13.30 WIB di sepanjang trotoar jalan Malioboro. Sedangkan Mataram Art Performance diadakan di Monumen Serangan Umum 1 Maret mulai pukul 18.30 WIB.

Saya nggak sempat menonton Parade Dolanan Anak. Tapi dari rundown acara yang beredar di media sosial, ditunjukan berbagai macam dolanan anak, dimulai dari depan Dinas Pariwisata DIY sampai depan Pasar Beringharjo. Ada egrang, bathok, lompat bambu, jamuran, lompat tali, dakon, dan Icipili Mitirimin. Saya sukses penasaran dengan permainan Icipili Mitirimin. Saya belum pernah dengar nama dolanan anak itu meskipun saya tinggal di Jogja sejak lahir. Mungkin saya kurang gaul πŸ˜€

Lalu, bagaimana acara Mataram Culture Festival 2? Ingin tau?

MC MFC 2

Acara dibuka oleh dua orang pembawa acara. Mereka memakai pakaian adat jawa. Yang kakung memakai surjan lengkap dengan blangkonnya. Sedangkan pembawa acara putri sangat anggun dengan kebayanya. Kemudian, mereka mempersilahkan peserta lomba foto untuk menyantap makanan yang disediakan yang disebut kembul dhahar.

Antri ambil makan
antrian peserta lomba foto mau ngambil makan

Acara ini sangat unik. Peserta lomba tidak makan menggunakan piring, melainkan menggunakan pincuk. Pincuk itu semacan daun pisang yang dilipat dibagian ujungnya lalu disatukan memakai lidi. Ini nih, pincuk.

pincuk
masukdapur.wordpress.com

Makanan yang disajikan sangat beragam. Mulai dari jajanan pasar hingga makanan berat. Seperti prasmanan, peserta bebas memilih makanannya sendiri. Rasanya seperti memadukan dua kebiasaan pada zaman berbeda menjadi satu.

Acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Tangan Estri Mataram. Saya sangat menikmati menonton ketiga anak yang menari di panggung sana. Berpakaian hitam-hitam, mereka melakukan tarian yang sangat menarik.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Ir. Aris Riyanta M.Si. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa acara seperti Mataram Culture Festival ini penting diselenggarakan. Selain untuk mengingatkan kembali pada dolanan anak yang mulai ditinggalkan, acara ini juga dimaksudkan agar memajukan pariwisata Yogyakarta. Kemudian, sambutan dilanjutkan oleh Bapak Supriyantus Anto.

Penampilan Pinkavaleri menjadi yang terfavorit bagi saya. Tarian yang menceritakan tentang prajurit kavaleri (parajurit berkuda) itu begitu dinamis. Musiknya yang menghentak-hentak membuat seluruh pandangan terpusat ke panggung.

Kalian tau kesenian Jathilan? Nah, tarian dari Pinkavaleri ini seperti versi modern dari Jathilan. Beberapa bagian dari musiknya persis seperti musik jathilan. Propertinya pun mirip, yaitu jaran kepang (kuda-kudaan). Hanya saja ini diberi tambahan pistol dan senapan. Oh iya, ini juga nggak ada adegan kesurupan seperti yang di Jathilan kok. Kalian nggak usah takut.

Gerakan tariannya seperti gerak tari putra. Tentu saja, karena tari ini ingin memperlihatkan bahwa perempuan dapat menembus ruang maskulin dalam tubuh perempuan. Anak-anak itu sukses menyampaikan makna tarian itu pada penonton.

Setelah diajak jathilan oleh Pinkavaleri, pembawa acara menjelaskan tentang salah satu jajanan tradisional, yaitu jenang lopis. Mulai dari bentuk hingga tempat membelinya, yaitu di tempat Bu Cipto dan Bu Mulyo Martono yang berjualan di Pujokusuman.

Kemudian, pembawa acara putra nembang tembang Jawa yang saya nggak tau itu tembang apa dan maknanya apa. Tapi caranya nembang sangat bagus. Lebih bagus dari guru yang dulu mengajari saya nembang.

Peserta lomba foto

Dialog dengan peserta menjadi acara selanjutnya. Para peserta lomba foto memberikan kritik dan saran mengenai penyelenggaraan Mataram Culture Festival 2 ini. Banyak yang mengapresiasi acara ini dan meminta acara ini untuk tetap diteruskan demi memajukan pariwisata Jogja. Selain itu, ada pula peserta lomba yang memberi saran agar disediakan kopi. Pasalnya, kegiatan foto berlangsung sejak pagi hingga malam. Mungkin, kafein memang sangat diperlukan agar mereka tetap fokus dalam mengambil gambar.

Seruni

Acara berlanjut dengan penampilan dari Seruni. Seruni menampilkan musik alternatif, terdiri dari tiga orang putra dan tiga orang putri. Masing-masing anggota memegang satu alat musik sedangkan satu orang lagi menjadi vokalis. Alat musik yang digunakan adalah gendang, ukulele, gitar, biola, dan gamelan.

Seruni membawakan dua lagu. Lagu pertama saya nggak tau judulnya apa. Lagu kedua adalah Bendera. Lagu-lagu itu dibawakan dengan santai. Penampilan itu sukses membuat suasana semakin syahdu dengan lampu kuning temaram Malioboro.

Acara selanjutnya adalah acara yang paling ditunggu, yaitu pengumuman juara lomba foto. Juara favorit satu, dua, dan tiga, masing-masing disabet oleh Wartono, Ahmad Haridi, dan Damar Aji. Mereka diminta naik ke panggung untuk menerima hadiah. Hadiah diserahkan oleh Bapak Budi Pras.

Juara favorit

Sedangkan juara harapan satu, dua, dan tiga, berhasil diraih oleh Azhari Faisal, Noval Ilham, dan Yudhi Irawan. Hadiah diserahkan oleh Bapak Edi Kurnianto, selaku juri lomba foto.

Penampilan Matar M
penampilan Matar Mitos

Penampilan terakhir adalah penampilan dari Matar Mitos. Matar mitos menampilkan sedratari yang sangat menarik. Penampilan diawali dengan suara orang nembang, kemudian disusul dengan adegan tari-tarian seorang perempuan yang berdandan seperti ratu. Sangat cantik. Sendratari ini diakhiri setelah adegan perang yang diberi efek asap dan juga nyala kembang api lidi. Bagus sekali.

PEnampilan Matar M 2

Penampilan Matar M 3

Usai Matar Mitos tampil, pembawa acara melanjutkan pengumuman juara lomba foto. Juara pertama diraih oleh Haryanto Subakti. Juara kedua dimenangkan oleh Iswara Pramidana, sedangkan juara ketiga disabet oleh Julius Pram. Masing-masing hadiah diberikan pada juara pertama, kedua, dan ketiga oleh Bapak rya Nugrahadi selaku Kabid Destinasi, Bapak Anto, dan Bapak Munir.

Acara selesai. Saya dan teman-teman, memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang ke rumah, kami makan dulu di warung Bu Yuli. Warung kaki lima yang ada di selatan Stadion Mandala Krida. Saya memesan bakmi yang enak sekali. Hangat juga, cocok untuk suasana malam yang dingin.

Mataram Culture Festival 2 tadi sangat mengagumkan menurut saya. Bila tahun depan masih diadakan, saya akan mengajak keponakan saya yang masih kecil melihatnya. Mereka pasti tertarik dan suka. Selain sebagai hiburan, acara itu juga lebih mengedukasi bahwa ‘kebudayaan’ tidak melulu hal kuno dan membosankan. Nyatanya, acara tadi malam mampu mengkolaborasikan sesuatu yang tradisional dalam kemasan modern yang sayang untuk dilewatkan.

Acara itu akan menjadi agenda setiap tahunnya di Jogja dengan skala yang lebih besar. Kalian mau lihat? Sini main ke Jogja. Tapi kalau sudah ke Jogja, jangan heran kalau sampai lupa pulang. Kata orang, Jogja itu susah ditinggalkan dan ngangenin loh.

Kamu… kapan main ke Jogja? πŸ™‚

 

Iklan