Logo-PMI3
ksrpmi.student.uny.ac.id

Siammo Tutti Fratelli!

Saya rindu sekali meneriakan kalimat itu. Kalimat yang dulu sering saya ucapkan. Namun kini sedikit terkikis dari ingatan. Kalimat itu sempat membuat saya terpacu untuk berlatih, lebih, dan lebih baik lagi. Tak peduli letih yang sering melanda. Pun cuaca yang tak terduga.

Kita semua saudara. Kalimat itu adalah semboyan PMI. Semboyan yang dulu sering saya ucapkan sewaktu masih PMR dan seleksi KSR di kampus. Ah, saya mau mengenang sedikit perjuangan saya yang antiklimaks dan sukses membuat saya menyesal sampai sekarang.

Setahun yang lalu saya mengikuti seleksi masuk UKM KSR di kampus. Seleksi yang sudah saya tunggu sejak awal masuk kampus. Namun sudah setahun sejak saya masuk kuliah, UKM itu tak juga membuka pendaftaran anggota baru. Saya tanya ke sana, ke mari tapi tak mendapat jawaban yang diinginkan.

Pendaftaran akhirnya dibuka. Tanpa basa-basi, saya isi formulir pendaftaran di unit (sekretariat KSR biasanya disebut). Semangat saya untuk masuk sangat tinggi saat itu. Berbekal pengetahuan saya tentang pertolongan pertama saat ikut ekstrakurikuler PMR di SMK, saya sangat percaya diri. Pasti saya diterima. Tapi sayangnya semua tak semudah itu.

Ketika Technical Meeting dilangsungkan di lantai tiga Student Center pada awal September 2016, nyali saya ciut seketika. Banyak sekali saingannya coy! Ada sekitar 200 orang yang mendaftar. Gila! Selain itu, ternyata untuk menjadi seorang relawan di KSR PMI, wajib melewati serangkaian seleksi. Mulai dari diklat yang dilangsungkan selama dua kali dalam seminggu sepanjang satu bulan, ujian, hingga seleksi lanjutannya yang masih dirahasiakan.

“Aduh, Kinan. Aku udah mental breakdown nih. Aku nggak yakin bakal kuat.”

Saya ingat betul ketika teman seperjuangan selama seleksi mengatakan itu. Semangat yang sudah di bawah batas, seketika naik satu garis. Banyak kata-kata motivasi dan semangat yang keluar dari mulut manis saya untuk membakar semangat teman seperjuangan yang hampir padam. Anehnya, teman saya ini termotivasi dan tetap lanjut seleksi meskipun dengan muka yang ditekuk. Lebih aneh lagi ketika saya dengan lancarnya menyemangati dia. Padahal saya sendiri butuh disemangati.

Serba-Serbi Diklat PAB

Diklat dilangsungkan sekitar pertengahan September hingga pertengahan Oktober 2016. Diklat dilakukan selama dua kali dalam seminggu, setiap hari Sabtu dan Minggu. Kegiatan dimulai pukul tujuh pagi hingga delapan malam di area Student Center. Banyak sekali cerita, tawa, dan bahagia yang bercampur dengan emosi dan rasa lelah.

Kegiatan diawali dengan apel pagi. Nah, secara bergantian, kami –peserta Penerimaan Anggota Baru- harus menjadi petugas apel. Padahal saya sendiri nggak jago baris-berbaris. Ya sudahlah, saya tetap coba, soalnya itu wajib sih, haha. Meskipun saya jalannya persis seperti robot rusak.

Setelah apel, kami harus lari keliling area Masjid Mujahiddin dan gedung Fakultas Ekonomi yang nyempil di sampingnya. Areanya luas lho, gaes. Mana kami lari wajib membawa tas yang isinya macam-macam penugasan. Beratnya… beuhh, sanggup membuat lengan tas punggung saya putus loh! Sumveh, saya nggak bohong. Habis kegiatan diklat, saya langsung beli tas punggung baru.

Belum cukup sampai di situ, kami juga harus push up dan sit up, masing-masing satu seri. Ini bagian yang paling saya suka. Secara nggak sadar, saya jadi ada jadwal olahraga, seminggu dua kali. Selain melatih otot lengan, kegiatan ini juga bisa mengecilkan perut. Eh, perut saya kan udah kecil. Mau sit up juga buat apa?

Setelah kegiatan fisik, kami duduk manis di ruangan untuk menerima materi. Materinya saya nggak semuanya ingat. Ada pertolongan pertama, perawatan keluarga, keracunan, evakuasi, penilaian, sejarah PMI, dan masih banyak lagi. Sejujurnya, saya saat materi, saya kebanyakan ngobrol dengan teman kanan dan kiri, hehe. Kadang bosan. Seharian harus duduk mendengarkan materi. Saya pikir, kegiatan kepalangmerahan akan lebih bagus bila diajarkan sambil praktik. Dan yeah! Praktik memang dilakukan, tapi di materi yang akhir-akhir.

Diselingi Kegiatan Fisik

Ikut diklat ini dijamin fisik kalian tambah oke. Gimana enggak? Setiap Sabtu dan Minggu peserta diklat bakal disuapi dengan berbagai macam latihan fisik. Entah itu sit up, push up, lari, atau yang lainnya. Nggak cuma satu seri, coy. Seperti Cinta Fitri, banyak serinya.

Awalnya sih tubuh bakal kaget dengan perubahan yang mendadak itu. Saya sih terutama. Saya yang awalnya nggak pernah olahraga, dipaksa untuk olahraga saat itu. Pulang dari diklat, badan saya rasanya mau rontok. Pegel-pegel semua. Tapi lama-kelamaan, biasa saja sih. Malah terasa segar dan bugar(?).

Latihan fisik memang wajar sih, buat yang minat masuk KSR. Sebagai penolong pertama, kadang kita dituntut gercep dan fisiknya oke. Karena saat sampai di lapangan, terkadang banyak juga korban yang nggak sadar dan harus diangkut. Kalau penolongnya aja nggak pernah olahraga, takutnya baru jalan sedikit bawa korban, langsung keok.

Dapat Gebetan Teman Baru

Ini sih sudah pasti lah ya. Saya dapat banyak teman dari fakultas lain. Biasanya kan saya cuma wira-wiri di Kampus II doang. Nah, ini main ke kampus pusat. Banyak teman dari fakultas lain yang akrab dengan saya –karena senasib sepenanggungan-. Selain itu, sekalian cuci mata juga. Siapa tahu ada yang bening-bening lewat.

Oh iya, di sini saya juga jadi tahu kuliner enak dan murah di kampus pusat. Beneran murah loh. Masa saya beli nasi goreng yang isinya tumveh-tumveh sama es teh, cuma habis 8.000 doang. Itu loh, di warungnya Bu N*ng. Ada juga Taman Kuliner, Foodcourt, dan yang lainnya lah.

Saya juga dapat cerita yang menginspirasi loh. Di KSR sana, saya tahu ada kakak tingkat yang gila. Kenapa saya menyebutnya gila? Karena dia ikut sembilan organisasi sekaligus! Hal yang harus diketahui adalah dia ini aktif di semua organisasi yang diikutin. Belum selesai loh ya. Dia juga berprestasi! Dia jadi Mapres fakultas juga! Kurang gila gimana? Saya sampai nggak habis pikir, bagaimana dia membagi waktu. Lha wong saya yang ikut satu organisasi dan itu juga cuma buat pelengkap aja, manajemen waktu saya amburadul.

Akhir yang ‘Anti Klimaks’

Tidak ada yang tahu akhir dari sebuah perjalanan. Saya yang awalnya sangat menggebu-gebu, tersandung batu kecil di akhir perjalanan yang ‘memaksa’ saya untuk jatuh dan berhenti. Saya nggak rela, sungguh. Setelah banyak tahap seleksi yang telah saya lalui, cerita saya harus berakhir dengan sad ending.

Kesehatan, izin orang tua, dan waktu adalah beberapa hal yang membuat saya tidak dapat mengikuti seleksi tahap akhir atau yang kami sebut Gladi Medan itu. Padahal segala keperluan untuk mengikuti Gladi Medan sudah saya siapkan. Istilahnya, tinggal angkat koper saja. Tapi sayang, saat hari Gladi Medan tiba, jalan cerita tidak seperti yang saya inginkan.

Saya kecewa. Tentu. Saya sedih. Sudah pasti. Saya sampai nangis loh sewaktu memutuskan untuk berhenti. Saya merasa seperti seorang anak yang nggak kesampaian dibelikan balon. Sedih sekali. Saya juga merasa semua yang saya lakukan selama kurang lebih dua bulan itu sia-sia. Namun setelah dipikir-pikir lagi, tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Saya yakin, akan ada hikmah dibaliknya. Namun kabar buruknya, saya belum menemukan hikmah itu 😀

Tetap Semangat!

Saya kira curahan hati saya tentang kegagalan saya masuk KSR cukup itu saja yah. Sulit banget mengulik kisah lama yang buat saya patah hati. Yah. Saya patah hati karena nggak bisa masuk KSR. Rasanya lebih nyesek daripada ketika kamu nggak merespon kode-kode dariku.

Yang terakhir, saya mau mengucapkan selamat berjuang pada adik-adik yang saat ini sedang mengikuti seleksi Penerimaan Anggota Baru KSR. Jaga semangat sampai akhir, biar nggak patah hati kayak saya. Dinikmati saja prosesnya, karena proses nggak akan mengkhianati hasil. Ini nih hasil saya browsing malam ini. Pesan-pesan dari kakak-kakak operasional waktu itu.

ksr

Ah, sudahlah. Sampai jumpa dipostingan saya selanjutnya!

 

 

Iklan