yang bertahan

Judul               : Yang Bertahan dan Binasa Perlahan

Penulis             : Okky Madasari

Editor              : Dwi Ratih Ramadhany

Ilustrator         : Restu Ratnaningtyas

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit    : 2017

Halaman          : 196

Blurb               : Ini adalah serangkaian kisah tentang pertarungan dan daya tahan manusia. Ada yang melawan dan bertahan. Ada yang lari dan menyembunyikan diri. Ada yang tak punya pilihan selain binasa perlahan.

“Hingga akhirnya hidup serba kekurangan sudah menjadi hal wajar dan tidak dianggap sebagai penderitaan.” (Yang Bertahan dan Binasa Perlahan – hlm. 15)

Yang Bertahan dan Binasa Perlahan

Kisah ini menceritakan Bandiman, seorang pria dari desa Giriharjo, punggung utara Gunung Lawu. Desa tempatnya tinggal itu jarang dijamah orang luar. Pun sebaliknya. Orang Giriharjo tak pernah tahu kehidupan di luar kampungnya.

Masyarakat desa ini memegang prinsip “Lahir di sini, ya mati di sini.” Orang dari pemerintahan yang menawarkan program transmigrasi kesulitan menawarkan pada masyarakat Giriharjo yang tak tampak tertarik. Namun Bandiman merasa tawaran itu adalah mimpi yang selama ini diinginkannya.

Akhirnya ia pergi dari tempat kelahirannya membawa istri serta tiga anaknya. Namun suatu yang tak ia sangka terjadi, membuatnya mempertanyakan kebenaran keputusannya untuk pergi.

“Udara yang kuhirup adalah racun, minuman yang kuteguk adalah limbah, dan yang bisa kumakan adalah sampah. Suara yang aku dengar adalah maki, doa untukku adalah sesal, belaian bagiku adalah guncangan-guncangan kasar.” (Janin – hlm. 63)

“Ia hanya menciptakan kami. Selanjutnya kehendak kamilah yang menentukan nasib kami.” (Perempuan Pertama – hlm 150)

“Aku takut menjadi salah karena keluar dari kebiasaan.” (Di Ruang Sidang –hlm 156)

Buku ini adalah kumpulan dari cerita-cerita pendek yang khas Mbak Okky, yaitu kritik sosial dan politik. Dalam buku ini terdapat 19 judul cerita pendek yang begitu menyentil, salah satunya adalah kisah Bandiman yang mencoba keluar dari tempat kelahirannya. Selain Bandiman, ada juga Keumala, Hanna, Hawa, dan yang lainnya dengan kisah yang berbeda-beda.

Cerita-cerita ini sangat merepresentasikan fenomena sosial yang marak terjadi di masyarakat. Sebut saja pelecehan seksual, pedofilia, provokator, dan pergaulan bebas. Selain itu, masih ada lagi fenomena yang dikemas dengan apik oleh Mbak Okky menjadi suatu cerita fiksi yang sangat menyentil dahi.

Ini adalah judul-judul cerita pendek yang ada dalam Yang Bertahan dan Binasa Perlahan.

  1. Yang Bertahan dan Binasa Perlahan
  2. Janin
  3. Sarap
  4. Pemain Topeng
  5. Laki-Laki di Televisi
  6. Dua Lelaki
  7. Keumala
  8. Hasrat
  9. Partai Pengasih
  10. Patung Dewa
  11. Riuh
  12. Dunia Ketiga Untukku
  13. Perempuan Pertama
  14. Di Ruang Sidang
  15. Bahagia Bersyarat
  16. Dua Pengantin
  17. Lalu Kita Menua
  18. Akad
  19. Saat Ribuan Manusia Berbaris di Kotaku

Diantara cerpen-cerpen itu, yang saya cetak tebal menjadi cerpen favorit saya. Yang Bertahan dan Binasa Perlahan menjadi yang paling panjang. Beberapa cerpen membuat saya agak bingung, sehingga harus saya baca ulang. Beberapa lainnya nggak berbekas di ingatan. Namun lebih banyak cerpen yang saya suka sehingga menutupi kebingungan saya terhadap beberapa cerpen lain.

Banyak pesan moral yang tersirat dan tersurat, namun tidak menggurui. Semua tentang fitrah sebagai makhluk sosial dan kekuatan untuk menghadapi lika-likunya. Selain itu, banyak sekali sindiran yang diselipkan disetiap cerita. Semuanya ditulisakan dengan gamblang dan tanpa basa basi.

“Tapi yang kutahu, yang namanya kampanye adalah orang-orang di atas motor memacetkan jalan sambil berteriak mengacungkan jari.” (Partai Pengasih – hlm. 118)

“Aku harus memilih mana yang layak untuk dijawab. Ini juga cara untuk menjaga citraku. Orang terkenal dan punya kekuasaan harus tidak punya waktu untuk melayani semua orang.”( Riuh – hlm. 137)

“Yang tertangkap kasus korupsi adalah orang-orang rendahan yang dipakai oleh mereka yang punya kekuasaan.” (Riuh – hlm 137)

“Setiap hal yang terbungkus dalam bahasa rapi dan sedikit puitis dengan cepat dianggap kebenaran.” (Riuh – hlm 137)

“Begitu pengecutnya aku, hingga untuk hidup saja takut. Begitu tidak punya harga dirinya aku, hingga lebih memilih mati untuk bisa melarikan diri.”(Dunia Ketiga Untukku – hlm 146)

“Semua yang terlalu enak tidak baik untuk kami. Kami akan lupa padaMu. Kami bisa lupa menyembahMu.”(Perempuan Pertama – hlm 149)

“Mereka samakan perempuan dengan setan, yang akan selalu merayu dan menggoda hingga hidup mereka semua akan sial dan celaka.”(Perempuan Pertama – hlm 151)

“Tak mampu kusebarkan apa yang kuanggap benar. Selalu kalah suaraku oleh mereka yang jauh lebih banyak.” (Perempuan Pertama – hlm 151)

“Orang yang sudah tak punya harapan, tak lagi menyimpan ketakutan.” (Bahagia Bersyarat – hlm 167)

Saya tidak pernah kecewa dengan karya Mbak Okky Madasari. Kisah yang disajikan begitu dekat dan nyata terjadi di masyarakat. Ditambah dengan gambar sampul yang sangat unik. Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Kalian akan mengetahui sisi lain dunia yang penuh dengan pertarungan dan pertahanan manusia di sini.

Empat dari lima bintang untuk novel ini!

 

Iklan