“Lemes banget sih, Kinan. Kenapa kamu?”

“Iya nih. Aku sedih banget.”

“Lha kenapa?”

“Kuotaku habis. Smartphone tanpa kuota tuh rasanya kayak makan soto tapi nggak pakai kecap. Aneh!”

“Asdfghjkl”

Pada era digital seperti sekarang, keberadaan dompet di posisi pertama barang yang wajib dibawa sudah tergusur digantikan oleh smartphone. Banyak yang lebih memilih dompetnya ketinggalan daripada smartphone yang ketinggalan. Tanpa smartphone, dunia terasa berjalan lebih lambat, terasa hampa, dan tiada gunanya. Smartphone bisa menjadi pelampiasan ketika sedang nggak ada kerjaan. Smartphone juga bisa membuat kita nggak kelihatan seperti anak hilang di tengah keramaian.

Smartphone tak pernah lepas dari tangan. Saat makan, minum, belajar, piknik, reuni, bahkan mandi, smartphone harus ada di dekat jangkauan. Coba, siapa yang kalau baru melakukan ritual alam di toilet selalu bawa smartphone? Mengakulah kalian generasi milenial! Menurut penelitian Verizon Wireless pada tahun 2015, 90%  orang memakai smartphone-nya saat di kamar mandi. Masih mau mengelak?

Saya juga merasa bahwa smartphone adalah salah satu hal penting yang wajib untuk selalu berada di dekat saya. Kalau dipikirkan lagi, smartphone adalah bentuk sederhana dari segala hal rumit yang ada di dunia. Saya bisa melakukan banyak hal hanya memakai satu perangkat. Bukankah itu hal yang sangat menyenangkan dan praktis. Tahu sendiri orang zaman sekarang nggak bisa kalau dibuat ribet. Semuanya harus serba praktis.

Karena melakukan berbagai hal dengan satu perangkat, manusia milenial seperti saya menjadi ketergantungan. Setiap waktu, smartphone atau jenis gadget apa pun harus siap di tangan. Kapan saja dibutuhkan, tinggal ambil satu perangkat, lalu melakukan kegiatan yang diinginkan. Saya mau baca, mau nulis, mau dengar musik, mau internetan, mau nge-game, mau apa pun bisa dilakukan lewat smartphone. Hal itu bisa menimbulkan dua dampak, positif dan negatif.

Menjadi sesuatu yang positif ketika smartphone dijadikan media untuk berprestasi. Misal seorang penulis. Dia akan menulis berbagai ide yang datang seenak jidat di smartphone-nya. Dia nggak perlu kertas dan pulpen. Cukup satu perangkat saja. Dia bahkan bisa riset tentang idenya itu langsung setelah menuliskan idenya. Nah, enak banget kan?

Buat yang suka nge-blog. Nggak usah susah-susah buka laptop. Pakai aja smartphone. Tinggal unduh aplikasi di Google Play, kegiatan nge-blog bisa berjalan lancar. Jadi, jangan alasan lah nggak nge-blog hanya karena nggak punya laptop atau nggak punya wifi. Zaman sekarang alasan macam itu sudah nggak relevan. Lha wong di smartphone aja terhubung internet 24 jam seminggu.

Kalau lagi suntuk, bisa juga tuh nonton film, dengar musik, bahkan baca buku! Wah, makin cinta deh sama smartphone. Perangkat itu nggak hanya memudahkan berbagai kegiatan kita, tapi juga buat refresing.

Dampak negatifnya nggak kalah banyak dari dampak positif. Ketika semua hal sudah dimudahkan dengan adanya smartphone, kita jadi malas gerak. Siang-siang, mau beli nasi padang. Takut panas dan terik matahari yang menyengat, kita tinggal tekan aja aplikasi pesan antar atau kalau zaman now sih,  bisa lewat G*-J** atau G**b. Kita tinggal bayar, beres segala urusan.

“Mbak, aku ini habis UN, gabut mau ngapa-ngapain. Kalau aku nggak ada hape, aku mau ngapain? Pokoknya kalau enggak ada hape, aku nggak mau makan!”

“Nggak mau makan? Terserah. Elu entar laper juga mlipir ke meja makan.”

Penyakit generasi milenial adalah memandang sesuatu hanya seluas layar smartphone. Banyak yang berpikir tidak akan bisa melakukan apapun tanpa smartphone di tangan. Heloo, buka mata lebar-lebar. Ada banyak kegiatan yang jauh lebih menyenangkan dibanding berkutat sendirian dengan smartphone! Kalian bisa berkebun, belajar sesuatu, bersosialisasi, jalan-jalan, dan masih banyak kegiatan asyik lainnya.

Mungkin akan ada yang membantah bahwa smartphone dapat dijadikan tempat belajar yang baik. Dari satu perangkat bisa buat berkelana ke seluruh dunia. Sekarang saya tanya, ketika kalian pegang smartphone, berapa persen waktu yang kalian gunakan untuk belajar dari total waktu kalian memakai smartphone? Saya yakin, pasti nggak sampai 50%. Belajar lewat smartphone itu nggak bakal efektif kalau diselingi dengan hiburan. Hiburan jauh lebih menarik dibanding belajar. Sulitnya, hiburan dan belajar berada di satu perangkat yang sama. Kalau iman nggak kuat, ucapkan selamat tinggal pada belajar yang sudah direncanakan dengan matang.

Tahun lalu, saya pernah melihat berita di televisi tentang dua orang anak yang kecanduan main game online. Tahukah kalian seberapa parah tingkat kecanduan mereka? Mereka sampai masuk rumah sakit jiwa, loh. Hebat banget kan dampak menggunakan smartphone, gadget, atau apa pun itu bila nggak terkontrol?

Apakah generasi muda kita sudah ketergantungan dengan smartphone? Ya, sudah jelas. Sangat ketergantungan dan kecanduan. Contohnya ya kasus di atas. Lalu apa yang harus dilakukan? Saya sendiri juga bingung. Lha wong, saya aja juga masih bergantung banget dengan smartphone, hahaha. Buat saya sendiri, selagi saya bisa mengontrol pemakaian, saya sih oke-oke aja.

Selama ini saya menggunakan smartphone sekadar buat denger lagu, baca buku, nge-blog, nulis, dan stalking twitter orang. Walaupun kegiatannya juga cuma itu-itu doang, tapi bisa memakan waktu yang lama loh. Baru buka smartphone, nggak berasa sudah satu jam berlalu. Efeknya memang, hmm~~ dari waktu yang cepat berlalu, kuota juga cepat berlalu.

Ini nih yang harus selalu diingat. Punya smartphone harus punya kuota juga. Itu sudah pasangan. Pernah nggak sih kalian mengalami situasi ketika punya smartphone tapi nggak punya kuota? Rasanya itu… kayak smartphone yang udah dibeli mahal-mahal, kemudian kehilangan fungsinya. Smartphone jadi useless banget. Rasanya itu mending nggak punya smartphone sekalian, daripada punya, tapi nggak ada gunanya.

Di satu sisi, smartphone membuat segala hal menjadi praktis dan mempermudah segala urusan. Namun di sisi lain, smartphone membawa dampak negatif yang cukup besar untuk penggunanya. Oleh karena itu, sebagai kita harus menjadi pengguna smartphone yang cerdas. Ingat waktu saat memakai smartphone. Jangan berlebihan. Karena semua yang berlebihan itu nggak baik.

Kalau kalian, apakah kalian juga sudah termasuk orang yang kecanduan atau ketergantungan pada smartphone?

Iklan