Mata ibuku terbuka, tapi tertutup. Matanya terbuka lebar, mampu melihat diriku tumbuh besar. Namun, matanya tertutup. Ia menutup mata pada rasa sayangku untuknya. Di matanya, aku hanya seorang anak sial yang penuh kekurangan. Kehadiranku adalah kesalahan. Nafasku adalah kesulitan. Langkahku adalah hambatan. Percakapan kami hanya berisi kemarahan. Kemarahan yang sudah lama dipendam padaku. Aku tak mampu melawan. Continue reading “Fanfiction: Dua Perempuan yang Hilang”

Iklan